Padang Bulan: Perjalanan Menemukan Semangat, Pelajaran Bertahan Hidup, dan Panduan Bahagia ala Detektif M. Nur
“Tak selembar pun daun jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan, Boi. Bagaimana keadaan kita sekarang, itulah yang diinginkan-Nya.”
(Detektif M. Nur kepada Ikal)
Saya bukan penggemar Andrea Hirata. Bahkan saya belum pernah tamat membaca Laskar Pelangi. Lebih dulu mengenalnya melalui film, membuat saya tidak tertarik membaca novelnya. Pada saat itu, rasanya saya juga belum begitu mencintai “membaca”, sehingga tidak pernah mengikuti perkembangan dunia perbukuan tanah air.
Tetralogi Laskar Pelangi begitu tersohor hingga diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan mendapatkan banyak penghargaan internasional. Saya mendapatkan informasi tersebut saat membaca pengantar novel “Padang Bulan” yang baru saja saya tamatkan. Ternyata membaca novel setebal 300 halaman masih mampu saya lakukan dalam hitungan jam. Haha. Saya kira keahlian ini sudah hilang, mengingat kesibukan yang terus merayapi hari-hari tiada henti.
Tuhan memberi saya kenikmatan berupa sakit. Sudah hampir seminggu saya mengisolasi diri di kamar. Tidak bisa mencium aroma apapun memaksa saya untuk beristirahat dari kebisingan dunia.
Satu hal yang hanya bisa saya lihat saat sedang sakit adalah tidak putusnya harapan untuk kembali pulih. Saya tidak menyangka bahwa Tuhan akhirnya memilih saya untuk ikut merasakan gelombang besar sebuah wabah yang menimpa orang-orang kuat di luar sana. Terima kasih, Tuhan. Saya adalah bagian dari orang-orang kuat ini.
Mengambil jeda dari pekerjaan, izin tidak memberikan bimbingan belajar, menahan diri untuk tidak bertemu dengan malaikat-malaikat kecil di TPQ, hingga meliburkan diri dalam kegiatan kuliah membuat saya memiliki banyak waktu untuk melahap buku-buku baru.
Hadiah pertambahan usia tahun ini penuh dengan buku-buku yang siap untuk dikencani sepanjang waktu. Siapa sangka celoteh saya tempo hari benar-benar dikabulkan Tuhan? Saya mengeluh tidak dapat cukup waktu untuk membabat habis buku-buku baru tersebut. Alhasil, sekarang Tuhan memberi saya banyak waktu luang untuk itu.
Hari pertama izin sakit, kawan-kawan pengajar datang ke rumah. Saya belum menyadari bahwa ternyata indra penciuman saya bermasalah. Saya merasa hanya demam dan flu biasa. Kami masih bisa bercanda dan menertawakan kondisi saya yang rapuh menjelang Raker dan Agenda Liburan. Maka sudah bisa dipastikan saya alpa dalam dua acara besar tersebut. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu. Sudah cukup saya saja yang sakit.
Hari kedua, datanglah kawan-kawan pengajar dari sekolah yang lama. Saya merasa begitu terharu. Mereka memberikan semangat dan berdoa untuk kesembuhan saya. Novel “Padang Bulan” saya dapatkan dari Ustazah Iif. Ia menjenguk saya dan memberikan ini, katanya agar saya lekas sembuh. Guyonnya, “Orang sakit disuruh mikir biar cepet pulihnya, haha.”
Setelah hari itu, saya benar-benar merasa ada yang salah. Saya tidak mampu mencium aroma apapun. Keesokan hari, saya kembali berobat dan disarankan untuk melalukan isolasi mandiri. Minum delapan macam obat dan vitamin, mengonsumsi sari buah dan sari kurma, minum wedang-wedangan tiap pagi dan siang harinya, olahraga 30 menit tiap pagi, hingga berjemur di bawah cahaya matahari. Saya juga membatasi diri bertemu dengan siapapun. Hanya ibu yang setia menemani. Terima kasih, Ibu. Saya selalu berdoa untuk keselamatanmu.
Saya bersyukur bisa membaca Padang Bulan. Enong membuat semangat saya kembali membara. Perjuangannya untuk menghidupi ketiga adik dan ibunya sejak ditinggal wafat ayahnya membuat saya merenungi banyak hal. Pertama, saya adalah sosok yang rapuh. Hanya ditimpa satu kesusahan, sudah mengeluh berkepanjangan. Kedua, Enong adalah sosok yang pantang menyerah. Ia sanggup melakukan apapun demi keluarganya. Mimpinya untuk bisa belajar bahasa Inggris lagi ia wujudkan seorang diri. Sungguh perempuan tangguh.
Di satu sisi, ada Ikal yang penuh pengorbanan kepada A Ling. Cinta pertama dan terakhirnya; seorang perempuan Tionghoa. Segala daya upaya ia lakukan untuk menunjukkan kesejatian cintanya kepada A Ling. Mulai dari kesalahpahaman berita yang ia dapat dari Detektif M. Nur, hingga kedatangan A Ling ke rumahnya untuk menyampaikan surat undangan pernikahan. Pada akhirnya, Ikal menertawakan segala tindakan bodohnya.
Bersyukur. Pelajaran yang didapat Ikal dari seorang Detektif M. Nur. Bagaimanapun keadaan saat ini, serumit apapun, bersyukurlah! Jika kau pandai bersyukur, hidupmu akan bahagia. Seperti Detektif M. Nur yang selalu bahagia, meski keadaan keluarganya tak jauh beda dengan Ikal, alias melarat. Namun, Detektif M. Nur pandai bersyukur, sehingga ia tidak pernah kekurangan suatu apapun.
Terima kasih Enong, Ikal dan Detektif M. Nur, untuk semangat hidup, pelajaran bertahan, pengorbanan dan panduan hidup bahagia yang begitu menawan. Danke.
Sampai jumpa pada “a note after reading” berikutnya.